Sesaat setelah lolosnya Inter ke Final Liga Champion 2010 dengan kemenangan agregat atas FC. Barcelona, begitu banyak cibiran akan strategi yang dipergunakan allenatore Inter dalam pertandingan itu. Inter Milan di klaim menerapkan strategi ‘Anti Football’, dan menyayangkan lolosnya Inter dengan strategi Ultra Defenssive seperti itu. Menurut pertimbangan saya, entah itu Liga Champion, Piala Dunia atau event singkat lainnya yang dibutuhkan adalah lebih kepada strategi pragmatis, lebih mementingkan sebuah kemenangan daripada bermain dengan indah, kecuali kalau dalam level kompetisi reguler semacam liga karena dibutuhkan bermain bagus dan konsisten!
Dalam Liga Champion, tim yang bermain jelek pun bisa memenangi gelar asal mau bermain efektif dan menyesuaikan strategi dengan kondisi lawan yanbg akan dihadapi tiap pertandingannya. So, adakah yang salah dengan strategi Mr. Mou?
Tentunya kita masih ingat dengan atraktifnya gaya total football tim oranye dan yang terbaru adalah gaya super kolektif milik Barcelona, sangat menarik dan menghibur buat suporter untuk disaksikan. Tapi apakah tim hanya butuh bermain indah? Tentu kemenangan tetap menjadi tujuan. Apakah Skema Bertahan Total juga menyalahi Fair Play? Jika kita mengingat fungsi pemain dalam tiap posisi, tentu kita akan paham bahwa strategi inter untuk lolos hanyalah memanfaatkan keunggulan agregat dengan memaksimalkan potensi lini belakang setelah di-espulso-nya Motta, dengan track record permainan Barca, tentu tidaklah mudah buat tim lawan memberikan perlawanan dengan 10 pemain.
Adakah kebanggaan seandainya tim melawan Barca juga dengan permainan Indah? Tentu ADA, dalam kompetisi reguler hal itu memungkinkan untuk dilakukan, selain utuk memberikan hiburan yang atraktif untuk suporter juga untuk memberikan kepuasan bagi pelatih dan tim, tetapi dalam kompetisi singkat seperti Liga Champions, pelatih dituntut HARUS memiliki pertimbangan yang cerdik dalam menyusun strategi untuk tiap lawan yang akan dihadapinya. Kemenangan menjadi tujuan jika ingin memenangi gelar, salah sedikit dalam menyusun strategi maka bersiap-siaplah untuk out dari kompetisi.
Masihkan publik antipati terhadap catennacio? Saya yakin masih banyak yang akan menjawab IYA, tapi bukankah buat tim daripada memenuhi ambisi suporter untuk bermain indah, lebih baik memenangi gelar?
Gli Azzuri juga menerapkan strategi yang sama pada Piala Dunia 2006, hasilnya? Terlepas dari insiden Materazzi, terbukti Italia menerapkan strategi yang efektif pada tiap pertandingan. Tim Oranye? Bermain seperti cirinya tapi kandas lebih awal. Bukankah Belanda juga belum pernah merengkuh trofi Jules Rimet?
Pro Kontra Catennacio
Posted in Sepak Bola on May 14, 2010 by originzeLima Tipe Wanita Bukan Pilihan Pria
Posted in Free Article, Uncategorized on May 11, 2010 by originzeDalam memilih pasangan, pria juga pilih-pilih seperti wanita. Mereka juga menjauhi wanita tipe tertentu, dan sebisa mungkin tidak akan menjadikan kriteria wanita ini sebagai pasangan mereka.
Sebuah situs psikologi, psico.it kemudian membuat survei tipe wanita yang dijauhi pria. Survei tersebut dilakukan pada 4.000 pria di Eropa. Berikut lima tipe wanita yang dijauhi pria, seperti dikutip dari Genius Beauty. Semoga Anda tidak termasuk didalamnya.
1. Wanita yang tidak bahagia (mood selalu buruk, tidak pernah puas dengan apa yang dicapai, selalu mengeluh dan berpikiran negatif)
2. Wanita terobsesi dengan berat badan ideal (wanita yang selalu diet dan berpikir berbagai cara untuk menurunkan berat badan)
3. Wanita terobsesi pada karier (wanita yang lebih mengutamakan karir dibandingkan keluarga)
4. Wanita yang tidak menghormati orangtua pasangan (wanita yang berusaha menjauhi pasangan dari orangtuanya, serta tidak menunjukkan rasa hormat)
5. Wanita dominan (selalu mengintervensi dan mengatur pasangannya dalam segala hal)
HARLAH, NATAL, DAN MAULID
Posted in Free Article, Islami on May 11, 2010 by originzeOleh: Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Menggunakan ketiga kata di atas dalam satu napas tentu banyak membuat
orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu
karena bagi kebanyakan Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda
artinya.
Harlah (hari lahir) digunakan untuk menunjuk pada saat kelahiran
seseorang atau sebuah institusi.Dengan demikian, ia memiliki “arti
biasa” yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bagi
Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad
SAW.
Kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-
lebih umat Kristen, memiliki arti khusus yaitu harikelahiran Isa Al-
Masih.
Karena itulah, penyamaannya dalam satu napas yang ditimbulkan oleh
judul di atas dianggap “bertentangan” dengan ajaran agama. Karena
dalam pandangan mereka, istilah itu memang harus dibedakan satu dari
yang lain. Penyampaiannya pun dapat memberikan kesan lain, dari yang
dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya.
Natal, yang menurut arti bahasanya adalah sama dengan kata harlah,
hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti
khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang
kedokteran, seperti perawatan prenatal yang berarti “perawatan
sebelum kelahiran”. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal’ adalah
saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh “perawan suci” Maryam.
Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak
manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Karena kaum
Nasrani mempercayai adanya dosa asal. Anak manusia yang bernama Yesus
Kristus itu sebenarnya adalah anak Tuhan, yang menjelma dalam bentuk
manusia, guna memungkinkan “penebusan dosa” tersebut.
Sedangkan Maulid adalah saat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Pertama
kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-
Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi itu. Dengan
maksud untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam
Perang Salib (crusade), maka ia memerintahkan membuat peringatan hari
kelahiran Nabi Muhammad tersebut, enam abad setelah Rasulullah wafat.
Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai
bentuk, walaupun Dinasti Sa’ud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-
karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa
untuk “menyambut kelahiran” itu.
Karenanya dua kata (Natal dan Maulid) yang mempunyai makna khusus
tersebut, tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apa pun juga
alasannya. Karena arti yang terkandung dalam tiap istilah itu masing-
masing berbeda dari yang lain, siapapun tidak dapat membantah hal ini.
Sebagai perkembangan “sejarah ilmu”, dalam bahasa teori Hukum Islam
(fiqh) kedua kata Maulid dan Natal adalah “kata yang lebih sempit
maksudnya, dari apa yang diucapkan” (yuqlaqu al’am wa yuradu bihi al-
khash). Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut
dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan
tidak dapat dimungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai
untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk
orang-orang Islam.
Natal, dalam kitab suci Alqur’an disebut sebagai “yauma wulida” (hari
kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan
sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: “kedamaian atas
orang yang dilahirkan (hari ini)” (salamun yauma wulid) yang dapat
dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud.
Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: “Kedamaian atas
diriku pada hari kelahiranku” (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu),
jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi
Isa “dijadikan” Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang
lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu.
Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci al-Qur’an, juga sebagai
kata penunjuk hari kelahiran-Nya, yang harus dihormati oleh umat
Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam
bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang
berbeda, adalah hal yang tidakperlu dipersoalkan. Jika penulis
merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian
yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah SWT.
Sedangkan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen),
penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan Kurdi/ non-Arab itu,
enam abad setelah Nabi Muhammad SAW wafat, harus berperang melawan
orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard
the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan
Prancis untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus,
melancarkan Perang Salib ke tanah suci.
Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu,
Saladin memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi tiap-tiap
tahun, di bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu
berubah fungsinya, yang tidak lagi mengobarkan semangat peperangan
kaum Muslimin, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam
dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang mereka lakukan, itu adalah
perjalanan sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul
kesejarahannya.
Jadi jelas bagi kita, kedua peristiwa itu jelas mempunyai asal- usul,
dasar tekstual agama dan jenis peristiwa yang sama sekali berbeda.
Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati
hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka
bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan
oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama
kaum Kristiani merayakannya bersama-sama.
Dalam literatur fiqh, jika kita duduk bersama-sama dengan orang Lain
yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim
diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut
dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan “ganjalan” bagi
kaum muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka
akan “dianggap” turut berkebaktian yang sama.
Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan,
sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah
selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk
menghormati kelahiran Isa al-Masih.
Inilah “prosedur” yang ditempuh oleh para pejabat kita tanpa mengerti
sebab musababnya. Karena
jika tidak datang melakukan hal itu, dianggap “mengabaikan” aturan
negara, sebuah masalah yang sama sekali berbeda dari asal-usulnya.
Sementara dalam kenyataan, agama tidak mempersoalkan seorang pejabat
datang atau tidak dalam sebuah perayaan keagamaan. Karena jabatan
kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada keharusan
apapun untuk melakukannya. Namun seorang pejabat, pada umumnya
dianggap mewakili agama yang dipeluknya. Karenanya ia harus
mendatangi upacara-upacara keagamaan yang bersifat ‘ritualistik’,
sehingga kalau tidak melakukan hal itu ia akan dianggap ‘mengecilkan’
arti agama tersebut.
Itu adalah sebuah proses sejarah yang wajar saja. Setiap negara
Berbeda dalam hal ini, seperti Presiden AS yang tidak dituntut untuk
mendatangi peringatan Maulid Nabi Saw. Di Mesir umpamanya, Mufti kaum
Muslimin-yang bukan pejabat pemerintahan- mengirimkan ucapan selamat
Natal secara tertulis, kepada Paus Shanuda (Pausnya kaum Kristen
Coptic di Mesir).
Sedangkan kebalikannya terjadi di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha,
bukan pada hari Maulid Nabi SAW. Padahal di Indonesia pejabat
beragama Kristiani, kalau sampai tidak mengikuti peringatan Maulid
Nabi SAW akan dinilai tidak senang dengan Islam, dan ini tentu
berakibat pada karier pemerintahannya.
Apakah ini merupakan sesuatu yang baik atau justru yang buruk,
penulis tidak tahu. Kelanjutan sejarah kita sebagai bangsa, akan
menunjukkan kepada generasi-generasi mendatang apakah arti moral
maupun arti politis dari “kebiasaan” seperti itu.
Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa arti pepatah lain padang lain
ilalang, memang nyata adanya. Semula sesuatu yang mempunyai arti
keagamaan (seperti perayaan Natal), lama-kelamaan “dibudayakan” oleh
masyarakat tempat ia berkembang. Sebaliknya, semula adalah sesuatu
yang “dibudayakan” lalu menjadi berbeda fungsinya oleh perkembangan
keadaan, seperti Maulid Nabi saw di Indonesia.
Memang demikianlah perbedaan sejarah di sebuah negara atau di
kalangan suatu bangsa. Sedangkan di negeri lain orang tidak pernah
mempersoalkannya baik dari segi budaya maupun segi keyakinan agama.
Karenanya, kita harus berhati-hati mengikuti perkembangan seperti
itu. Ini adalah sebuah keindahan sejarah manusia, bukan? *
Jerusalem, 20 Desember 2003
Makhluk dari Planet Mana Israel Ini?
Posted in Free Article, Uncategorized on May 11, 2010 by originzeOLEH EMHA AINUN NAJIB
Makhluk dari mana Israel ini, adigang adigung adiguna, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.
Nama kelompok kebangsaannya disebut paling banyak di Alquran, bahkan dipakai sebagai nama Surah. Beberapa identifikator sejarah penciptaan oleh Tuhan menyimpulkan yang disebut ‘’Dajjal’’, perusak dunia kelas wahid, berasal dari suku Yahudi ini dan berambut keriting. Tapi orang tidak benar-benar berani mengutuknya karena mereka keturunan Nabi Besar yang amat kita takdzimi, yakni Ibrahim AS, entah dari beliau Ismail atau Ishaq. Dan kemah ajaran beliau, millah Ibrahim, adalah induk segala ajaran, teologi monotheisme, nama beliau kita sebut pada rakaat salat kita semulia kekasih Allah, Muhammad SAW junjungan kita semua.
Mayoritas aset moneter global dan segala jenis modal perekonomian, bank dunia dan institusi-institusi keuangan primer dunia dipegang oleh turunan beliau dan strategi pengelolaannya sampai ke Kongres Amerika Serikat berada di genggaman turunan yang lain dari beliau juga. Sejumlah futurolog ekonomi menganjurkan anak-anak kecil sekarang mulailah diajari berbahasa Arab karena akan menjadi bahasa utama dunia: pergilah cari kerja ke Negeri koalisi 16 Pangeran di Jazirah Arab. Bahasa Ibrani tak perlu dipelajari, karena para fungsionaris dari Israel mungkin lebih pandai berbahasa Arab dibanding Raja Saudi dan lebih mlipis berbahasa Indonesia dibanding orang Indonesia.
***
Anda tidak akan paham menemukan peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat. Juga agak miris melihat tanda warna merah pada daerah tertentu dari Nusantara. Di Belanda, November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasional Rabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa dolan ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap pekan.
Israel juga punya situs berbahasa Indonesia. Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagoge sama dengan disain bagian atas rumah-rumah Pulau Jawa bagian utara. Kenapa ibukota Israel tidak Tel Aviv saja tapi Java Tel Aviv. Kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai negara pakai kata Java. Apa pula hubungan dua konsonan yang sama itu: J dan W. Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: Jewish atau Jawa. Kalau Sampeyan keturunan Nabi Ibrahim, apakah nenek moyang kami manusia Nusantara yang seluruhnya berpuluh abad yang lalu disebut Jawa atau Jawi adalah ‘’keponakan’’-nya Ibrahim ataukah lebih tua dari Ibrahim.
Dari dunia Jawa dimunculkan sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil ‘’taruhan’’ antara Yahudi (Jewish) dengan Jawa (bukan Jawa non-Sunda non-Batak dalam pengertian 100 tahun terakhir): Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘’juara’’ mereka akan berguru kepada Jawa.
***
Apa-apaan itu? Dari bidang ilmu dan teknologi diberitakan bahwa revolusi invensi atau penemuan-penemuan baru akan mengubah geo-ekonomi, geo-politik dan kebudayaan dunia dari Cina, Brazil, Jepang dan Indonesia.
Bangsa Indonesia memasuki 2009 sebagai ‘’orang lugu’’ dan tidak perduli pada dirinya sendiri karena habis waktu dan enerjinya untuk urusan kotak suara. Padahal sejumlah makhluk Tuhan di luar manusia yang ditugasi menemani pertumbuhan peradaban ummat manusia sudah menyiapkan dibukanya sejumlah penemuan di bidang telekomunikasi, energi dan pertanian.
Sengaja saya tuturkan kepada sidang pembaca hal-hal yang ‘’tidak-tidak’’. Nanti kita akan sampai ke yang lebih ‘’tidak-tidak’’ lagi: Lemorian, banjir Nuh, Parikesit, terciptanya pulau-pulau Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dst. Dan akan saya sambung pada tulisan berikutnya pekan depan.
Tapi kita jangan bilang tidak masuk akal dulu sebelum kita bisa menjawab seberapa masuk akal kelakuan Israel sekarang ini: Dengan lancar dan mulus-mulus saja menghajar Palestina di depan rumah saudara-saudaranya sendiri sesama bangsa Arab, di depan hidung PBB.
Berdasarkan sejumlah ‘’khayalan’’ saya di atas, ucapkan: ‘’Ayo, Israel! Kalau berani jangan hanya berantem sama anak kemarin sore. Datang ke Indonesia, sini kamu, carok kita!’’
Kebijaksanaan Cendol
Posted in Free Article on May 11, 2010 by originzeKarena akan menerima tamu dari Thailand, maka Kiai itu merasa harus menyuguhkan Jawa. Segala yang nampak pada Pondok Pesantren yang dipimpinnya, sebenarnya relatif sudah mengekspresikan tradisional Jawa. Potret desa, model-model bangunan dan irama kehidupannya. Sang tamu besok mungkin akan mendengarkan para santri berbincang dalam bahasa Arab atau Inggris. Tapi itu bukan masalahnya. Yang penting Kiai kita ini tidak akan mungkin menyediakan Coca Cola ke depan hidung tamunya dari tanah Thai itu.
Demikianlah akhirnya sekalian santriyah yang tergabung dalam Qismul Mathbah (Departemen Dapur) bertugas memasak berbagai variasi menu Jawa. Dari sarapan grontol, makan siang nasi brongkos, malam gudeg, besoknya pecel, lalu sayur asem dengan snack lemet dan limpung.
Sang Kiai sendiri “cancut tali wondo” mempersiapkan suguhan siang hari yang diperkirakan bakal terik. Ia dengan vespa kunonya melaju, membawa semacam tempat sayur yang besar. Empat kilometer ditempuh, dan sampailah ia ke warung kecil di tepi jalan. Seorang Bapak tua penjual cendol. Sang Kiai sudah memperhitungkan waktunya untuk sampai pada bapak cendol ini pada dinihari saat jualannya. Yakni ketika stock masih melimpah.
Terjadilah dialog dalam bahasa Jawa krama-madya.
“Masih banyak, pak?”
“Masih Den, wong baru saja bukak beberan”
“Alhamdulillah, ini akan saya beli semua. Berapa?”
Pak Cendol kaget, “Lho, Jangan Den!” jawabnya spontan
Sang Kiai pun tak kalah kagetnya: “Kok jangan?”
“Lho, kalau dibeli semua, bagaimana saya bisa berjualan?”
Sang Kiai terbelalak. Hatinya mulai knocked-down, tapi belum disadarinya.
“Lho, kan saya beli semuanya, jadi bapak nggak perlu repot-repot berjualan lagi disini hari ini.”
Pak Cendol tertawa dan sang Kiai makin terperangah.
“Orang jualan kan untuk dibeli. Kalau sudah laku semua kan malah beres?”
Pak Cendol makin terkekeh.
“Panjenengan ini bagaimana tho Den! Kalau dagangan saya ini dibeli semua, nanti kalau orang lainnya mau beli bagaimana! Mereka kan tidak kebagian!”
Knock-Outlah Sang Kiai.
Ia terpana. Pikirannya terguncang. Kemudian sambil tergeregap ia berkata: “Maafkan, maafkan saya pak. Baiklah sekarang bapak kasih berapa saja yang bapak mau jual kepada saya.”
Seperti seorang aktor di panggung yang disoraki penonton, ia kemudian mendapatkan vespanya dan ngeloyor pulang.
Sesampainya di Pondok ia langsung memberikan cendol ke dapur dan memberi beberapa penugasan kepada santriyah, kemudian ia menuju kamar, bersujud syukur dan mengucapkan istighfar, lantas melemparkan tubuhnya di ranjang.
Alangkah dini pengalaman batinku gumannya dalam hati. Sembahyang dan latihan hidupku masih amat kurang. Aku sungguh belum apa-apa di depan orang luar biasa itu. Ia tidak silau oleh rejeki nomplok. Ia tidak ditaklukan oleh sifat kemudahan-kemudahan memperoleh uang. Ia terhindar dari sifat rakus. Ia tetap punya dharma kepada sesama manusia sebagai penjual kepada pembeli-pembelinya.
Ia bukan hanya seorang pedagang. Ia seorang manusia!
Muhammad Ainun Nadjib
_______________
arsip, dari buku: “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”.
AIR ZAMZAM DI NEGERI COMBERAN
Posted in Free Article, Islami on May 11, 2010 by originze1.
Di usia sepuhnya, Gus Mus makin gantheng wajahnya dan makin bening cahaya yang memancar dari wajah itu. Bahkan kulit beliau yang aslinya coklat kini menjadi cenderung kuning-putih. Itu bukan wajah Gus Mus yang kita kenal dalam kebudayaan di bumi. Itu langit.
Sungguh bikin cemburu. Bagaimana hamba Allah satu ini, semua manusia dari Sabang hingga Merauke diam-diam pada bingung, ambruk, kuyu, frustrasi dan putus asa, meskipun ditutup-tutupi – dia malah makin sumringah hidupnya, wajahnya tersenyum, seluruh wajahnya tersenyum, bukan hanya bibir beliau: benar-benar seluruh wajah beliau, lagak-laku dan output karakter beliau adalah senyuman.
Tiba-tiba muncul makhluk yang bernama Doctor Honoris Causa. Menghampirinya. ‘Ngenger’ kepadanya. Melamarnya untuk menjadi sandangannya. Sudah pasti beliau tersenyum, mengulurkan tangan dan dengan penuh kasih sayang. Menunjukkan sikap menerima, menampungnya, mengakomodasikannya, menggendongnya, mengelus-elusnya.
Jauh di dalam kalbunya Gus Mus mengerti betapa inginnya si Doctor Honoris Causa itu diperkenankan untuk menjadi bagian dari kehidupan Gus Mus. Dan ‘Ma abasa wa ma tawalla, an ja-ahul a’ma…. tak mungkin beliau berpaling, meremehkan dan mengabaikan pengemis yang hina dina sekalipun.
Padahal di dalam doa-doanya, Gus Mus selalu meletakkan semua makhluk lemah itu di shaf terdepan dari aspirasinya. Bahkan jenis hati beliau tidak puas untuk memohon “Ya Allah, sayangilah para pengemis, mudahkanlah kehidupan mereka, limpahilah dengan rizqi-Mu yang luasnya tak terhingga kali seluruh jagat raya”. Bunyi perasaan terdalam beliau agak lebih radikal: “Alangkah mudahnya bagi-Mu ya Allah untuk sejak awal menciptakan pagar-pagar qadla dan qadar agar dalam peradaban ummat manusia tak usah ada pengemis, tak usah ada hamba-hamba yang selemah itu, apalagi sampai dilemahkan, di-pengemis-kan”.
Memang di dalam salah satu cara berpikir tasawuf para pemberi membutuhkan mereka yang diberi. Orang kaya membutuhkan orang miskin, sebab orang miskin adalah jalan memperbanyak pemberian, infaq dan shadaqah. Orang miskin adalah lahan subur untuk menanam kasih sayang. Gus Mus setahu saya tidak turut menikmati bermain logika dan simulasi sosial sufisme. Beliau transenden dari pola-pola adegan itu dengan mempertapakan dambaan cinta alangkah indahnya kehidupan tanpa orang-orang miskin yang meruntuhkan hati dan memeras airmata.
Bahasa gamblangnya: Gus Mus pada dasarnya tidak merasa krasan juga Doctor Honoris Causa melamar-lamar dirinya. Dan lebih sangat “haram mu’aqqad” lagi kalau sampai ada bagian dari kehidupan ini di mana Gus Mus yang melamar gelar Doktor, mendambakannya, mengambisiinya, merakusinya, merindukannya, apalagi sampai menyiapkan uang dalam jumlah sangat besar dalam rangka memperhinakan dirinya.
Lho, apakah gelar Doktor itu hina? O tidak lah yaoo… Ini hanya pernyataan ta’aqqud dan tafaqquh bahwa yang selain Tuhan selalu menjadi jatuh hina jika diperlakukan sebagaimana Tuhan. Hanya Allah yang memiliki maqam untuk didambakan untuk diraih, diserakahi untuk ‘dimiliki’, digadang-gadang serta dicita-citakan untuk bersanding. Selain Allah, bahkanpun Rasulullah, juga seluruh manusia dan alam semesta, cocoknya dicintai, disayang.
Gus Mus menyayangi gelar Doktor beliau, tapi insyaallah tak sampai mencintai. Disayang karena mereka yang memberinya gelar itu juga sangat sayang kepada Gus Mus. Namun tidak sampai mencintai, karena beliau bukan orang bodoh.
2.
Gelar Doktor mencerminkan pencapaian ilmu maksimal pada ukuran mesin berpikir manusia. Tidak sempurna dan belum puncak, dalam arti potensialitas yang dianugerahkan Allah atas daya akal manusia masih menyediakan cakrawala luas dan langit tinggi yang masih amat jauh di luar jangkauan pencapaian peradaban berpikir ummat manusia sampai sekian puluh abad. Sedangkan gelar Proffesor menggambarkan kelulusan komitmen terhadap dunia ilmu dan kesetiaan terhadap tradisi kemuliaan pemeliharan dan penyebaran ilmu. Tafaqquh ‘ilmi wan-tisyaruh.
Itu idiomatik dan simbol dari dunia persekolahan di mana pencarian ilmu diinstitusionalisasikan, dengan ‘syubhan’ politik dan perdagangan – tetapi yang terakhir ini tidak menjadi perhatian dalam tulisan ini. Di luar sekolah, masyarakat (Indonesia, Jawa) membangun sendiri idiomatic dan simbol-simbolnya untuk mengukuhkan pencapaian manusia di antara mereka: Kiai, Panembahan, Ki, Begawan, Pendekar, Pandito. Pada tataran yang lebih popular dan sehari-hari muncul symbol: Mbah, Lurah, Danyang, mBahurekso, dst, yang semuanya menggambarkan pengakuan umum atas pencapaian tertentu dari seseorang.
Kalau memang ‘terpaksa’, KH Mustafa Bisri kita lengkapi saja atributnya: Mbah Lurah Danyang mBahurekso Pandito Begawan Panembahan Ki Kiai Profesor Doktor Mustafa Bisri, dan saya urun nambahi satu tapi tanpa upacara: Karromallohu wajhah…. Karena insyaallah beliau karib dan sehabitat dengan Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dalam sejumlah konteks, utamanya ta’aqqudul iman, tafaqquhul ‘ilmi wa ni’matul ma’rifah serta thariqat ‘suwung’, fana’.
3.
Doktor itu kedewasaan ilmu, namun tidak menjamin kematangan mentalitas dan spiritualitas. Bahkan tidak menjanjikan kedewasaan sosial dan kultural. Sedangkan Gus Mus mohon maaf: memiliki semua itu.
Tak akan didengarkan orang kalau ada seorang Doktor berfatwa, sebagaimana kalau KH Mustafa Bisri (andaikan beliau mau) berfatwa. Sebab ‘fatwa’ arti telanjang epistemologisnya adalah kedewasaan yang ‘jangkep’. Doktor masih kedewasaan parsial dan ‘githang’.
Fatwa bukan produk dari rapat sekian ratus Ulama yang naik pesawat dari berbagai propinsi untuk mengacungkan tangan dan meneriakkan “Setuju!” dalam sebuah rapat yang berprosedur demokrasi, penjajagan pendapat untuk mencapai kesepakatan. Atau lebih rendah lagi: pendapat sudah disediakan, dan ratusan Ulama bersegera menyetujuinya karena hal itu merupakan ujung dari suatu eskalasi politik, mobilisasi berpikir dan honorarium. Untuk Indonesia, tradisi semacam itu sudah ma’ruf wa mafhum, dan semua tinggal meng-amin-i.
Sesungguhnya Gus Mus adalah seorang Al-Mufti. Hanya saja beliau terlalu rendah hati. Sekurang-kurangnya Al-Mufti adalah kwalitas dan maqam beliau. Dan kalau beliau hampir tidak pernah menduduki kursi itu dan tidak ‘nyuwuk’ fatwa apa-apa kepada bangsa dan ummat yang tidak mengerti kegelapan (apalagi cahaya) ini, kita orang dusun tahunya barangkali memang beliau tidak memperoleh ‘wangsit’ untuk berfatwa. Allah sendiri menerapkan sifat As-Shobur kepada bangsa Indonesia, Gus Mus nginthil di belakang-Nya.
Dan sungguh saya selalu merasa gatal untuk menggoda Gus Mus, di tengah perjalanan hidup ‘asyik ma’syuk di tengah hutan belantara penuh comberan ini.
4.
Maka sengaja tulisan menyambut penggelaran Doctor Honoris Causa untuk Gus Mus ini saya bikin berlama-lama dan terlambat-lambat. Memang sih ada sejumlah kesibukan, tapi alasan utama saya bukan itu. Motif saya yang sesungguhnya adalah: saya sangat bernafsu menyiksa Gus Mus, saya sangat cemburu pada beliau, dan saya berkhayal berlari kencang mendahului Gus Mus.
Saya buka rahasia pribadi: saya ini seorang penakut bin pengecut. Hidup saya tanpa kekuasaan, baik sebagai warga masyarakat, sebagai suami, sebagai bapak, sebagai lelaki atau sebagai apapun. Itu gara-gara saya tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk menyentuh orang lain dengan kehendak saya. Tidak sedikitpun saya berani menyiksa siapapun, baik menyiksa dengan kejahatan maupun dengan kemuliaan, dengan keburukan atau kebaikan, dengan kesalahan maupun kebenaran.
Jangankan menjadi pemimpin Negara atau wakil rakyat, sedangkan menjadi kepala rumahtangga saja saya memilih untuk tidak berkuasa. Saya hanya bagian dari keluarga, bagian dari masyarakat dan Negara. Padahal aslinya di dalam diri saya terdapat nafsu kekuasaan yang meluap-luap, bahkan ada semacam potensi kekejaman yang selama ini saya sembunyikan dengan sangat rapi. Nah, terhadap Gus Mus: saya menemukan peluang sangat besar dan melimpah untuk berkhayal punya kekuasaan dan menyelenggarakan penyiksaan-penyiksaan semaksimal mungkin.
Sebab saya tahu dan yakin bahwa beliau tak akan marah. Gus Mus tidak memiliki hubungan genetik, kefamilian atau keterkaitan sosial dengan kemarahan. Satu point ini saja sungguh seribu kali lebih penting dan lebih tinggi mencapaian mental maupun ilmiahnya — dibanding seribu gelar doktor kepada beliau. Kalau ada orang marah, itu pasti bukan Gus Mus. Dan kalau para saintis tidak mampu menemukan keterkaitan dialektis antara fenomena marah dengan kosmos ilmu, maka tidak perlu ada Sekolahan, Universitas ataupun Pesantren.
5.
Tapi ya siksaan saya kepada Gus Mus sekedar terbatas pada ulur-ulur waktu jadinya tulisan ini. Celakanya beliau sama sekali tidak marah. Tersiksa sedikitpun tidak. Padahal kalau sampai beliau tersiksa, betapa indah puisi-puisi yang terungkap dari ketersiksaan itu. Gus Mus adalah pendekar kehidupan yang bukan sekedar sanggup menemukan ketenteraman dalam kecemasan, menggali kebahagiaan dari jurang derita, atau menikmati kekayaan di dalam kemiskinan. Lebih dari itu Gus Mus bahkan mampu membuat kegelapan itu tak ada, karena yang ada pada beliau, dan bahkan beliaunya itu sendiri: adalah cahaya.
Kemudian hal cemburu: beliau ini dikejar-kejar dilamar-lamar oleh Doctor Honoris Causa. Sementara saya orang tua sampai hampir batas jatah usia hari ini tak pernah dinantikan orang, apalagi dikejar. Tak menggembirakan orang hadirku dan tak ditangisi orang hilangku. Tak dirindukan oleh siapapun saja kecuali oleh istri dan anak-anakku.
Maka saya dendam kepada Gus Mus. Dan dengan melambat-lambatkan tulisan ini saya bisa membangun khayalan bahwa saya bukan hanya juga berposisi dikejar-kejar, tapi juga ‘GR’ bahwa yang mengejar-ngejar saya adalah orang besar bernama KH Mustafa Bisr. Dan karena saya dikejar oleh Gus Mus, sedangkan Doctor Honoris Causa mengejar Gus Mus, maka saya berada dua langkah di depan Doctor Honoris Causa. Dengan demikian tak mungkin Doctor Honoris Causa akan pernah mampu mencapai lari kencang saya.
Bagi siapapun yang kebetulan membaca tulisan ini, mudah-mudahan menjadi paham kenapa sampai setua ini saya tidak pernah “dadi wong”, tak pernah mencapai apa-apa dan tak pernah menjadi siapa-siapa. Jawabannya sangat gamblang dengan alinea-alinea di atas: saya sudah sangat bergembira cukup bermodalkan khayalan-khayalan semacam itu. Puji Tuhan ada kesempatan untuk membuka rahasia itu, karena hanya Gus Mus yang memiliki keluasan untuk men-senyum-i khayalan-khayalan saya, sementara lainnya selama ini hanya mencibir dan meremehkan saya.
6.
Maka di luar itu semua tentulah saya turut mengucapkan ‘mabruk’ atas penganugerahan gelar Dr.HC kepada Gus Mus, tanpa mempersoalan bahwa — ibarat baju, gelar itu terlalu kecil atau ‘cekak’ untuk Gus Mus. Atau dengan kata lain beliau – dengan segala kwalitas dan bukti-bukti kesalehan dan kreativitas puluhan tahun hidupnya – terlalu besar untuk hanya digelari Dr.HC.
Sebenarnya saya sudah menantikan penganugerahan ini 30-40 tahun silam. Atau mungkin malah diperlukan ijtihad untuk mendirikan lembaga gelar yang lebih tinggi derajat mutunya, lebih meluas cerminan jangkauan manfaatnya serta lebih mendalam kasunyatan kekhusyukan komitmennya. Terserah apapun saja nama gelar khusus itu yang kita gunakan untuk menunjukkan kesadaran kita dalam mengapresiasi “Manusia Thawaf” dari Rembang ini.
Tetapi omong-omong qulil haqqa walau kana murran KH Mustafa Bisri sebenarnya juga sama sekali tidak cocok hidup di zaman di mana beliau hidup sekarang ini, di Negeri ajaib yang Gus Mus menangisinya berurai-urai airmata di hadapan Allah sambil hati beliau geli setengah mati dan tertawa terpingkal-pingkal.
Minimal ada satu syarat mendasar yang Gus Mus tidak miliki secuilpun untuk ‘relevan’ hidup di zamannya: tidak punya ambisi, tidak memiliki ‘ananiyah’, tidak punya kesanggupan mental untuk membuang rasa malu, serta terlalu rewel terhadap martabat dan harga diri ke-insan-an beliau. Sistem nilai yang berlaku komprehensif dewasa ini akan tiba pada suatu perkenan sosial dan permisivisme budaya terhadap siapapun untuk bukan hanya memasang gambar wajahnya di jalanan-jalanan atas niat dan inisiatifnya sendiri, melainkan pelan-pelan kelaminnya juga sudah siap untuk diiklankan.
Cocoknya Gus Mus ada di antara para sahabat Rasulullah Muhammad SAW: dolan mengobrol ke kampung-kampung bersama Abu Dzar Al-Ghifari, malamnya majlisan dengan Babul-‘Ilmi, pintu ilmu pngetahuan: Sayyidina Gagah Ganteng Brillian Ali ibn Abi Thalib karromallohu wajhah.
7.
Maka atmosfir peristiwa penggelaran Dr.HC untuk Gus Mus ini saya masuki dengan kegembiraan sebagaimana memasuki pesta setengah “majdzub”. Saya ikut minum anggur rasa syukur yang menggelegak tanpa alasan apapun kecuali menikmati kekayaan “qudroh”nya Allah SWT. Saya melintas ke sana kemari menyapa semua sahabat keindahan dan mengobrol dengan para “mab’utsin” kebenaran dan kebajikan.
Siapa saja yang tak tahan bersegeralah pergi menjauh dari saya. Sebab saya melayang-layang surving diving sampai terkadang terpikir di benak saya NU itu sebaiknya dibagi dua: ada firqoh Nahdloh dan firqoh Ulama. Ketua golongan Nahdloh bolehlah KH Hasyim Muzadi, tapi Ketua Ulamanya harus KH Mustafa Bisri.
Gus Mus memimpin gairah ta’limul ardl wa ma’rifatussama, yang lain silahkan memanfaatkan pengetahuan dan legitimasi langit untuk pengetahuan dan kepentingan di bumi. Harus Gus Mus yang memimpin. Kok harus? Siapa yang mengharuskan? Ya saya sendiri, lha wong ini tulisan saya sendiri. Terwujud dan terjadinya Gus Mus jadi Ketua NU ya cukup dalam diri saya sendiri, karena kalau di kasunyatan NU saya bukan sekedar tidak punya hak apa, tapi juga tidak ada.
Ini tulisan-tulisan saya sendiri, dan yang saya tulis adalah jenis orang yang tidak akan marah atau berbuat apapun meskipun saya tulis bagaimanapun. Jadi saya Ketua-NU-kan dia, kalau perlu seumur hidup. Seumur hidup.
Dan ini sama sekali bukan soal ambisi atau kerakusan, melainkan berdasar feeling saya dalam hal niteni tradisi sunnah-nya Allah. Manusia dengan kaliber dan kwalitas macam Rasulullah Muhammad SAW oleh Tuhan diselenggarakan atau dilahirkan hanya satu kali selama ada kehidupan. Kalau taruhan tidak haram, saya berani taruhan soal ini.
Jenis Ibrahim AS dan Musa AS bolehlah lima abad sekali. Atau kalaupun saya sebut 10-20 abad juga tak akan pernah ada kemampuan penelitian ilmu manusia untuk membenarkannya atau menyalahkannya. Salahnya sendiri banyak sekolahan ummat manusia berlagak-lagak pinter tapi tidak ada peneliti hal-hal beginian, mana mungkin akan pernah mengenal clue ‘perilaku’ Allah ini.
Lha makhluk yang berperan sebagai Mustafa sesudah Bisri sesudah Mustafa sesudah Bisri entah yang keberapa ini, yang khalayak umum, kelas menengah intelektual sampai institusi Negara menyangka ia adalah Ulama dan Seniman – tinggal Anda perkirakan maqamnya, keistimewaannya, spesifikasinya, genekologinya, koordinat kosmologisnya. Dilahirkan 75 tahun sekali? 102 tahun sekali? 309 tahun sekali?
Saya tidak mau terjebak oleh adagium “La ya’riful Waly illal Waly”: tak ngerti Wali kecuali Wali. Anda jangan percaya pada rumus yang membuat Anda tersesat menyangka saya mengerti Gus Mus karena saya sekwalitas dan semaqam dengan beliau. Jangan coba-coba memompa kepala saya menjadi besar, sebab saya sudah sangat pusing oleh besar kepala saya.
Rumus lebih tepat untuk ini adalah “hanya kekecilan semut yang mampu mengagumi kebesaran gajah”.*****
Muhammad Ainun Nadjib
Hukum Allah ndak Butuh Argumen
Posted in Islami on May 11, 2010 by originzeHukum kita bedakan menjadi dua yaitu :
- Hukum ijtihan manusia
- Hukum dan otoritas yang menjadi haknya Allah SWT
Seperti babi, khomer itu tidak ada urusannya dengan proses budaya, jadi bukan karena Muhammad SAW menjumpai babi terus ada cacing pita segala macam dan kalau menghilangkan virusnya harus dicuci sama pasir sampai 7 kali baru diharamkan.
Tidak, Muhammad tidak pernah mengharamkan babi tapi yang melarang adalah Tuhan, dan Muhammad hanya menyampaikan. Masalahnya sekarang manusia mempunyai hak tafsir, artinya kalau Tuhan menyuruh kita Sholat lima waktu dalam sehari itu bisa kita tafsirkan. Tapi harap diingat semua tafsir itu tidak berlaku hanya bagi support logis diri masing-masing dan tidak berlaku sebagai dukungan hukum, ndak bisa. “Wis emboh pokoke sampean dikongkon sembayang alasane opo, pokoke sembayang ae”. Itu kalau hukum Tuhan, itu namanya gajinya Tuhan. Kalau dalam perhitungan ekonomi semesta, Tuhan kasih saham hampir seratus persen Dia hanya minta gaji 3,5 persen yang namanya ibadah mahdoh, dari sahadat sampai naik haji. Dan yang mahdoh-mahdoh lain adalah hukum-hukum lain seperti babi, khomer dan lain sebagainya adalah hukum mahdoh yang tidak berdasarkan pertimbangan manusia. Disitu pertimbangannya hanya “take it or live it”. Terserah mematuhi atau tidak mematuhi terserah dengan resiko masing-masing. Dan kalau diluar 3,5 persen itu ibadah muamallah itu boleh anda runding, boleh anda itjihadi. Bikin PKB boleh, bikin parpol boleh yang ngusulin Presiden itu boleh, yang independent atu ndak terserah “monggo” silakan diperdebatkan. Tuhan tidak ikut campur kecuali dia hanya memberi batas sar’I saja.
Jadi bicara tentang babi dan kalau anda ngomong cacing pita itu akan terbantah terus, karena cacing pita itu kita bisa atasi dengan mudah. Kalau hanya dengan makan babi cacing pita itu bisa saja hanya alas an klasik dan kuno. Penemuan terbaru mengenai babi itu justru satu eksperimen di wilayah biologi bahwa semua organ didalm babi itu sama dengan manusia, itu bisa menjadi salah satu hipotesis untuk mencari argumentasi mengapa babi diharamkan meskipun tidak boleh dipastikan, itu tetap terserah Tuhan. Biar itu baik untuk kita atau tidak kan hak Tuhan… kan gitu ?, Tetapi bahwa babi itu organ dalamnya itu persis manusia dan kalau anda cangkok hati babi ndak masalah kalau perlu organ anda diganti punya babi semua ndak masalah. Biar jelas masalahnya gitu lho…
Tapi tetap meskipun ada penemuan seperti itu tidak bisa kita jadikan kalimat “oh.. Tuhan melarang babi itu karena organ didalam babi sama dengan manusia, ya ndak..? ju ..iya terserah gusti Allah SWT” alasannya gimana orang itu soal mahdoh kok. Sama dengan sholat subuh itu dua rokaat, apa alasannya ?. cariono yang sulit, maka tafsir apapun dalah ibadah mahdoh itu tidak bisa untuk legitimasi.. jadi sekali lagi hukum Tuhan itu beda dengan hukum yang kita bikin.
Ada penelitian di Swedia mengapa Adam dikatakan manusia pertama itu benar, karena dalam semua manusia asalkan laki-laki bila gennya diambil, dari banyak gen semua akan mengalami mutasi dan mutasi itu bisa disebabkan kalau dia punya bapak, bukan kalau dia punya ibu. Jadi tidak mungkin laki-laki lahir tanpa bapak, dan itu bila Tuhan membikin Hawa dulu tidak akan terbukti secara biologis, maka harus ada Adam dulu baru kemudian ada anak turunnya. Itu bisa dibuktikan secara biologi sekarang. Tapi bila Tuhan diomongin bukti ya Tuhan bilang “ya…semau-maunya aku”.
(Dari Bangbang Wetan September 2007)